Pages

ambil keperluan anda di sini

Thursday, October 5, 2017

Kacamata kuda

*KACAMATA KUDA*

_Butuk Kemisih MUHAS_
https://www.instagram.com/p/BZ5CKxUh6vn/
_____________
Konon untuk bisa berjalan sesuai keinginan kusir selain dipasang tali kendali, seekor kuda mesti dipakaikan kacamata.  Bukan dari kaca ataupun lensa pembesar untuk memperjelas penglihatan. 

Yang saya tahu kacamata kuda terbuat dari bahan yang justru tidak tembus cahaya dan dipasang tidak benar-benar menutup seluruh bagian bola matanya. Kacamata kuda hanya menutup sebagian mata kuda agar pandangan kuda tidak jelalatan, supaya pandangan kuda fokus ke depan.

Fokus melangkah ke depan ini yang diharapkan para kusir agar gerobak delman berfungsi maksimal sebagai sarana transportasi. Bisa dibayangkan jika langkah kuda tidak fokus, matanya jelalatan ke kanan dan kiri maka impian nyaman naik delman akan berubah menjadi  pertunjukan akrobat yang menggeber adrenalin. Atraksi jaran goyang.

Dalam merencanakan sebuah kegiatan maupun upaya menggapai mimpi, seorang perlu belajar dari sang kusir. Memasang kacamata kuda, mengarahkan pandangan agar fokus mutlak diperlukan. Konsentrasi mewujudkan _final goal_  harus senantiasa menjadi pusat perhatian, menjadi  catatan yang tercetak tebal, italic, ber- _underline_ bahkan jika perlu dicetak dengan *tinta merah* dalam buku agenda.

Menjadi guru yang mampu menorehkan ide dalam bentuk tulisan menjadi impian, walau sadar diri betapa modal yang dimiliki sangat-sangat minim. Kualifikasi pendidikan, pengalaman berliterasi lebih-lebih tentang tingkat inteligen si yang jauh dibawah standar kelayakan sebagai seorang penulis.

Bergabung di WAG Iro Society seolah mendapatkan siraman air segar, menumbuhkan sekelumit asa yang sepertinya mustahil diraih. Kucuran motivasi dari para master bak suplai air gratis yang senantiasa mengalir deras dari kran. Tanpa harus susah payah menimba, tanpa harus berkeringat memompa guyuran _wejangan hebat_ senantiasa membasahi kalbu. Jika hati terbuka menerima sunggub selaksa postingan di WAG Iro Society bagai limpahan air penghilang dahaga. Seperti pupuk organik yang menumbuhsuburkan tanaman, benih-benih mimpi.

Perhelatan Tawangmangu yang akan dibimbing langsung oleh *Prof. Imam Robandi* sungguh menjadi magnet tersendiri. Menggerakkan hati dan fikiran kaki dan tangan untuk memberanikan diri _daftar ulang_.

Banyak godaan, pertanyaan jadi ikut atau tidak terus berkecamuk. Berbagai alasan untuk tidak daftar ulang tersusun rapi;

Jauh
Repot
Harus ngangkot
Lagi banyak agenda sekolah
Bayar 700 ribu
_Belum punya bekal karya_

Alasan yang tercetak miring diatas yang mendominasi perasaan saya dan menjadikan _ciut nyali_ untuk daftar ulang.

Walaupun panitia telah memberikan wanti-wanti bekal utama adalah sekedar membawa laptop dan rol kabel serta semangat silaturahim. Namun dari seluruh data awal pendaftar saat ini hanya separuh saja yang telah _fix_ menjadi peserta.

Jika terlalu banyak pertimbangan yang menggoda hati untuk tidak mengikuti barangkalai kaca mata kuda layak jadi _aksesori_.

Saya telah memakainya.

OTW Kendal, 6:10:2017

heboh kebakaran pasar cendrawasih metro

Wednesday, October 4, 2017

DIBALIK TANGGUNG JAWAB GURU

*DIBALIK TANGGUNGJAWAB GURU*

Oleh _Muhammad Zaini_
Pimpinan Pesantren _S_-PEAM Pasuruan Indonesia.
_(Sekolah Pesantren Entrepreneurship al-Maun Muhammadiyah)_
https://www.instagram.com/p/BZ1JEZJl1Ae/
________
_Team teaching_ bagian dari strategi pembelajaran untuk mengungkap problem yang dihadapi oleh siswa dalam manghadapi subjek materi pelajaran. Sebagai sebuah strategi, _team teaching_ dapat menjadi terobosan baru proses pembelajaran untuk mencapai target-target tertentu. _Team teaching_ di sini tidak saja berhubungan dengan upaya untuk mendongkrak daya serap siswa, tetapi hal yang lebih penting adalah menemukan permasalahan dalam proses pembelajaran yang dihadapi siswa terkait dengan kefokusan, daya konsentrasi, semangat yang melemah, kedisiplinan dan ketaatan.

Setelah dua hari pesantren _S_-PEAM membentuk _team teaching_ sebagai strategi pembelajaran, banyak hal yang dapat menjadi bahan diskusi untuk meningkatkan pelayanan dan memberi solusi beberapa permasalahan siswa yang muncul di saat pembelajaran berlangsung di kelas. Momentum evaluasi adalah salah satu alat untuk mengidentifikasi beberapa permasalahan yang ditemukan oleh guru berdasarkan kerja tim yang telah dibentuk. Dengan team teaching ini guru dapat terkondisi untuk memiliki atmosfir baru yang tidak saja berbicara _“how to teach”,_ tetapi juga berpikir _“how to solve the problem for in learning”._

Problem siswa tidak fokus, kurang konsentrasi, sulit berperilaku disiplin dan taat, serta nutrisi semangat yang rendah, adalah beberapa problem pembelajaran yang seringkali tidak banyak menjadi jangkauan topik pembicaraan para guru, sehingga pembelajaran cenderung berlangsung linier, datar, dan bahkan dilakukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban mengajar. Tentu ini tidak boleh terjadi di tengah institusi pendidikan, karena mengajar adalah profesi yang harus mengedepankan tanggungjawab moral untuk mengantar generasi masa depan menjadi lebih baik dan berkualitas.

Pepatah Arab mengatakan _“ath-Thariiqatu Ahammu Min al-Maddah”_ (metode adalah lebih penting dari pada subjek materi ajar). Pepatah ini tidak berhenti di sini, tetapi juga ada kelanjutannya yaitu, _“al-Mu’allim Ahammu Min ath-Thariqah”_ (Guru adalah lebih penting dari pada metode). Strategi dan guru adalah dua hal yang melekat yang satu sama lain memiliki sisi urgensi yang sangat penting. Guru yang bertitik tumpu pada strategi meniscayakan ada sebuah kreativitas tinggi yang terlihat pada keinginan untuk menyajikan pembelajaran selalu ada gerak dinamika dan progres yang pasti.

Beberapa problem yang muncul di dalam pembelajaran selalu dicari jalan keluar untuk menemukan kehangatan baru, sehingga lika-liku keunikan di tengah perjalanan pembelajaran direspon sebagai sesuatu yang nikmat dan harus dihadapi untuk ditemukan solusi yang tepat. Maka ada hal yang lebih penting lagi dari pada subjek materi ajar, metode atau strategi dan guru, yaitu _“Ruh al-Ta’lim Ahammu Min al-Mu’allim”_ (Ruh, jiwa atau semangat mengajar adalah lebih penting dari pada sosok guru).

Guru yang tidak memiliki ruh mengajar, keberadaannya tidak lebih dari sekadar ada dan tidak akan memancarkan daya magnet apapun untuk menggugah siswa tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas tinggi dan berkarakter. Guru yang sampai di level ini memang tidak mudah, dan harus diupayakan karena menyangkut hal yang sangat prinsip. Identifikasi ruh mengajar harus terus dilakukan, dicari dan diurai secara detail sebagai tolok ukur _learning principles_ untuk dapat aplikatif dalam praktik pembelajaran dan pengajaran.
______
Pesantren _S_-PEAM, 04 October 2017

NEVER STOP GETTING THE PROCESS


*NEVER STOP GETTING THE PROCESS*

Oleh _Muhammad Zaini_
Pesantren S-PEAM Pasuruan Indonesia.
https://www.instagram.com/p/BZx3zWCFdhV/
_______
Pesantren S-PEAM tidak pernah berhenti mencari formula untuk mengkondisikan santri selalu melahirkan prestasi yang gemilang. Dari sisi akademik semua santri akan selalu dijaga untuk terkondisi menjadi pribadi yang bangga dengan banyak prestasi. Kiat, langkah, strategi dan formula-formula baru selalu menjadi perhatian dan prioritas utama para tenaga pendidik agar semua santri memiliki kesadaran tinggi untuk mempersembahkan yang terbaik bagi diri, keluarga dan almamater tercinta pesantren S-PEAM.

Di usia santri yang masih dalam tumbuh kembang, memang banyak hal yang menjadi tantangan belajar mereka. Salah satu yang menjadi faktor utama adalah problem _conditioning_ agar semua santri di saat mengikuti proses pembelajaran dapat memberi perhatian penuh dan fokus untuk menyerap mata palajaran dengan baik. Selalu saja ada perilaku unik di antara mereka yang terkadang dianggap mengganggu oleh tenaga pendidik. Ini adalah hal yang wajar terjadi yang harus selalu ada solusi sebagai langkah antisipasi.

Tentu problem-problem semacam itu, harus ada wadah komunikasi yang diketahui oleh semua pihak, terutama oleh pimpinan lembaga agar ada solusi cepat dan tepat. Di satu pihak, diliihat dari sisi usia anak jenjang SMP, perilaku-perilaku unik yang acapkali muncul tidak sepenuhnya dapat disalahkan, namun di pihak lain keluhan sang tenaga pendidik merasa ada titik jenuh dan ketergangguan, tentu saja adalah hal yang sangat manusiawi. Di sini peran pimpinan lembaga sangat penting untuk menjadi jembatan solusi agar suasana lembaga dapat kembali normal dan menemukan semangat dan kiat baru.

Pesantren S-PEAM Kota Pasuruan setelah melakukan evaluasi menemukan sebuah simpulan  bahwa salah satu kendala sebagian santri tidak dapat menyerap pembelajaran dengan baik karena faktor keterbatasan tenaga pendidik tidak dapat menjangkau untuk melakukan bimbingan satu persatu kepada semua santri di saat pembelajaran di kelas berlangsung. Termasuk juga problem tenaga pendidik di dalam menghadapi sebagian santri yang memiliki perilaku unik, yang kemudian menyebabkan pembelajaran tidak dapat berlangsung kondusif.

Mulai hari ini, selasa 03 Oktober 2017 pesantren S-PEAM Kota Pasuruan menerapkan model pembelajaran _team teaching_ untuk meningkatkan daya serap santri dan mengatasi problem pengkondisian agar semua santri dapat teridentifikasi dengan baik untuk mencapai target ketuntasan belajar yang diharapkan. Model _team teaching_ ini baru uji coba untuk kelas IX sebagai program pendalaman dan penguatan Bimbingan Belajar yang akan dievaluasi dalam bentuk program tryout pada Senin, 09 Oktober 2017 yang akan datang.

Semoga ini adalah langkah yang baik dan ikhtiyar baru untuk meningkatkan daya serap santri agar selalu terpacu menjadi pribadi yang berprestasi.
_______
Pesantren S-PEAM, 03 Oktober 2017.

Tuesday, October 3, 2017

Hud Hud dakwah

*HUD HUD & DAKWAH*

Oleh Hayati Nufus
*(MIM Bloran, Kerjo, Karanganyar)*

Suatu hari seorang teman alumni pondok pesantren bercerita bahwa dia enggan berdakwah di masyarakat karena dia merasa ilmunya belum cukup dan akhlaknya belum baik. Menurutnya, pendakwah haruslah orang yang cukup mumpuni  ilmu maupun akhlaknya. Saya memilih untuk tidak merespon pernyataan tersebut, karena kasus seperti ini sudah sering kita temui dan menjadi alasan klise yang terus diulang-ulang oleh orang-orang yang enggan berdakwah atau menolak tugas dakwah.

Hal serupa pernah disampaikan seorang jamaah pada sebuah halaqoh majlis ilmu, ditanggapi dengan sangat apik oleh gurunya.
Begini tanggapan sang Kyai,  "Bila kita enggan berdakwah maka hakikatnya kita membuat iblis dan tentaranya tersenyum bahagia dan lega." Menurut Pak Kyai, iblis dan sekutunya sangat membenci orang-orang yang bergiat dakwah di jalan Allah karena tugas utama mereka adalah menjauhkan manusia dari syariat Allah dan rasul-Nya. Jika semakin banyak manusia yang terpanggil untuk berdakwah  maka akan semakin  berat dan tinggi tingkat kesulitan yang dihadapi  iblis dan sekutunya dalam menyesatkan manusia. Buah manis dari dakwah adalah akan semakin banyak orang yang tercerahkan oleh cahaya Illahi dan inilah yang paling ditakuti oleh sang musuh Allah itu.

Mengajak orang pada kebaikan dan mencegah kemunkaran _(amar ma'ruf nahi munkar)_ adalah tugas dan  warisan spirit para nabi. Misi hidup mereka bukan hanya _solihun linafsihi_ (memperbaiki diri sendiri) tetapi juga _muslihun lighoirihi_ (memperbaiki  orang lain). Para nabi adalah insan-insan pilihan yang sudah terseleksi dengan sangat baik untuk tugas utama dan mulia yaitu melestarikan kebaikan di muka bumi ( _rohmatan lilalmin_) dan meninggikan kalimat Allah (  _lii' lai kalimatillah_) dengan kalimat tersebut semesta alam terpelihara dalam naungan Ridha Illahi.

Ketika seorang pendakwah mengajak pada kebaikan _(amar ma'ruf_ ) secara umum relatif tidak banyak pertentangan yang muncul,  karena pada dasarnya tabiat manusia itu baik dan menyukai kebaikan, tetapi ketika seorang pendakwah mulai mencegah kemunkaran masalah akan menjadi lain, disinilah tantangan dakwah dimulai. Akan banyak orang yang merasa  terusik kepentingannya sehingga menimbulkan banyak pertentangan. Siroh Rosul memberi kita pelajaran tentang hal ini, awalnya Muhammad bin Abdullah adalah sosok pemuda yang sangat dicintai dan dibanggakan oleh pamannya Abu Lahab. Sejak kecil Rosul dikenal sebagai manusia yang berbudi luhur dan tidak pernah melakukan hal yang tercela sehingga kaumnya menyandangkan gelar _Al Amin_ atas keluhuran budinya. Ketika panggilan dakwah diserukan Rosul dari atas bukit Shafa, Abu Lahab adalah orang pertama yang menentang dan bereaksi sangat keras. _"Tabban laka ya Muhammad alihadja jama'tana?"_(celakalah engkau Muhammad apa untuk hal ini kami dikumpulkan?).
Umpatan keras terhadap Rasulullah yang langsung Allah jawab dengan surat al Lahab.
_"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa"_(Q.S.111:1)
Dari sini kita dapat belajar bahwa tugas dakwah selalu mendapat tantangan yang tidak ringan sepanjang masa.

Banyak generasi muda islam yang sudah terjangkiti oleh prilaku gaya hidup hedonis, materialis dan pragmatis menolak  menjadi seorang dai (juru dakwah). Menurut mereka menjadi dai bukanlah  profesi bergengsi dibanding dengan profesi lain seperti dokter, pejabat, pengusaha, entertainer dan lainnya.
Persepsi mereka bahwa da'i adalah profesi yang kurang menjanjikan keberlimpahan finansial dan kemakmuran masa depan. Persepsi peyoratif  ini menjadi adagium yang diyakini juga oleh sebagian masyarakat, padahal  persepsi ini bertolak belakang dengan penuturan ayat berikut ini:
_"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"_
(Q.S.41:33).
Menurut Hasan al Basri dalam tafsir ibnu Katsir yang dimaksud ayat di atas adalah tentang seorang kekasih Allah, penolong agama Allah, orang pilihan Allah yang paling diutamakan dan paling disukai Allah di antara penduduk bumi. Yaitu orang yang memenuhi seruan Allah dan menyeru manusia untuk memenuhi seruan Allah seperti yang ia lakukan.  Seorang ulama bernama Hasan al Bana sangat bangga menjadi seorang dai kecintaannya pada profesi dakwah dinyatakan dengan sebuah statemen indah yang dijadikan slogan para dai ,  _"Nahnu duat kobla kulli syain"_(kami adalah pendakwah sebelum menjadi apapun).

*Belajar Dakwah Dari burung Hud-Hud.*
Kisah burung hud-hud dan Nabi Sulaiman dalam Al Qur'an surat An Naml ayat 20-44 bisa menjadi pengajaran dan pelajaran bagi manusia tentang bagaimana seekor burung kecil telah sukses melakukan kerja dakwah dengan hasil yang sangat spektakuler. Dikisahkan pada surat An Naml bahwa suatu hari burung Hud-Hud yang nama latinnya _upupa epops_ sejenis burung pelatuk pemakan serangga absen dari barisannya ketika diinspeksi oleh Nabi Sulaiman. _Ketidakhadiran_ Hud-Hud membuat nabi Sulaiman marah besar dan berniat menghukumnya dengan hukuman yang keras bila Hud-Hud tidak bisa memberi alasan yang tepat. Singkat cerita dikisahkan bahwa ketidakhadiran Hud-Hud karena sebuah alasan yang sangat penting yaitu ia telah pergi dan terbang mengepakkan sayap mengarungi jarak yang sangat jauh dari Palestina sampai pada sebuah negri bernama Saba di Yaman, ihwal negri itu Nabi Sulaiman pun belum mengetahuinya.
_"Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar."_
(Q.S.27:23)
_"Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk."_
(Q.S.27:24).
Dua ayat di atas menjelaskan tentang info penting yang disampaikan Hud-Hud kepada Nabi Sulaiman yaitu tentang   negri besar yang makmur bernama Saba  diperintah oleh seorang ratu. Sangat disayangkan menurut hud-hud ratu dan rakyatnya disesatkan syaithon dengan menyembah matahari. Alur cerita dikisahkan Hud-Hud diutus untuk kembali ke negri Saba membawa surat yang berisi pesan dakwah dari Nabi Sulaiman untuk mengajak ratu Saba dan rakyatnya menyembah Allah yang Esa dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun. Klimaks cerita setelah melalui rangkaian proses diplomasi yang panjang antara ratu Saba dan Nabi Sulaiman, akhirnya sang ratu beserta rakyatnya menyerah dan dengan suka rela mereka tunduk berserah diri menyambut seruan tauhid.

Pelajaran penting dari kisah Hud-Hud adalah:
1. Jangan pernah meremehkan apapun walaupun ia tampak kecil dan lemah di dalam kerja dakwah.
2.  Dakwah adalah hak dan kewajiban setiap muslim.
3. Jangan menunggu menjadi ahli ilmu yang hebat untuk melakukan kerja dakwah karena burung kecil seperti Hud-Hud pun mampu melakukannya.
4. Jangan berhenti untuk memperbaiki diri sambil melakukan tugas dakwah bagi orang lain.

Mari kita sampaikan walau satu ayat, kita ajarkan walau hanya sekedar keahlian cara menanam rumput. Dan taman yang bagus tidak akan indah dan sejuk tanpa kehadiran rumput di tanahnya.
Wallahu a'lam.
_______________
*Kerjo 3 Oktober 2017*