*Mengikat makna 74*
*Anak Gunung dan Anak Laut*
_Turrachman musawerna_
_JPSM Indonesia_
https://www.instagram.com/p/BZsOZJKFR72/
*_______________*
" Bapak, Geist ingin tinggal di Wonosobo saja, yang tidak panas dan tidak banyak nyamuk! ", kata anak nomer dua saya Geist aliran rahma, suatu ketika, mendengar kalimat tersebut saya hanya tersenyum dan mempersiapkan kalau memang dia ingin tinggal di tanah kelahiran.
Tak terasa sudah hampir 4 tahun saya dan keluarga tinggal di Kabupaten Tegal, sebuah perjalanan waktu yang terasa begitu cepat, dan saya sekarang sudah tidak lagi mendengar keinginan geist untuk tinggal di kampung Wonosobo, mungkin dia sudah bosan meminta atau memang telah "menerima" atau terbiasa dengan cuaca panas pantura yang penuh dengan dinamika dan bunyi knalpot kendaraan atau suara nyamuk yang berseliweran kalau malam telah datang.
Naluri semua manusia ingin hidup "nyaman" jauh dari "problem" atau tantangan kehidupan, hidup damai, nyaman, semua terpenuhi kalau perlu tidak usah sampai keringat bercucuran dan yang kita inginkan sudah di depan mata, anak - anak saya tidak salah ketika mereka merengek untuk tinggal di tanah kelahiran, sebab udara yang pertama kali mereka hidup adalah udara yang rata rata suhu nya adalah 20 °©, dengan tingkat polusi dan kebisingan yang relative masih rendah jika di bandingkan dengan Kota Tegal, dan makna hijrah adalah melakukan sebuah perubahan, tidak hanya sekedar lokasi tempat tinggal, tapi perubahan yang nyata adalah dalam hal kedekatan kepada Allah sang Pencipta.
Gunung dan Laut adalah teman, semua saling mensuport dan menguatkan, yang menyimpan air setelah hujan adalah gunung dan yang menampung air yang mengalir dari gunung adalah lautan.
Ketika di gunung kita belajar tentang keteduhan, tentang komitmen dan ketika di laut kita belajar keluasan hati, semua memberi makna dan manfaat sesuai dengan kapasitasnya masing - masing.
Melatih anak untuk siap dengan segala kondisi dan situasi memang tidak mudah, sebab secara fisik memang mereka yang belum cukup mandiri. Bahkan orang tua saja banyak yang tidak sanggup atau tidak siap kalau harus bertemu dengan perubahan baik secara fisik maupun psikis, padahal kata orang jawa "urip kuwe koyo mampir ngombe" atau hidup itu seperti orang mampir kerumah orang untuk sekedar minum, maka pasti sangat sebentar dan akan pindah atau menemui sebuah hal yang baru, sebab sejatinya yang abadi itu hanya perubahan itu sendiri.
_Menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa itu pilihan_, pengelola sebuah sekolah baik itu guru maupun kepala sekolah yang tidak siap akan perubahan pasti akan di tinggalkan oleh customernya, kalau ada guru yang senang mengeluh dan senang mengandalkan orang lain, maka guru tersebut tak ubahnya seperti anak kecil yang terus merengek dan meminta di buatkan minuman susu.
*____________________*
*Musawerna di siang hari, pk. 11.15 pada suhu 30°©*
0 komentar:
Post a Comment